Hubungan ekonomi Islam dengan aqidah Islam tampak jelas dalam banyak hal, seperti pandangan Islam terhadap alam semesta yang ditundukkan (disediakan) untuk kepentingan manusia. Hubungan ekonomi dengan aqidah dan syari'ah tersebut memungkinkan Aktivitas ekonomi dalam Islam merupakan salah satu bentuk ibadah Sedangkan di antara bukti hubungan ekonomi dengan akhlak dalam Islam adalah seperti larangan terhadap pemilik dalam penggunaan hartanya yang dapat menimbulkan kerugian atas harta orang lain atau kepentingan masyarakat.
Nabi Muhammad bersabda:
لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ
Tidak boleh merugikan diri sendiri dan juga orang lain (HR ahmad)
“Ekonomi Islami lahir dari iman, diatur oleh hukum Allah, dan
dijalani dengan akhlak mulia.”
Firman Allah dalam surat al-Nisa' ayat 29:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا ٢٩
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang batil (tidak benar), kecuali berupa perniagaan atas dasar suka sama suka di antara kamu. Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.Text by Ismail Ali Mukharom · Images by freepik.com